Panduan Wisata ke Malioboro Sekaligus Ngomongin Cara Parkirnya, Aksesnya

Bagi wisatawan yang datang ke Malioboro sekarang gak bisa disamain dengan beberapa tahun lalu. Dulu, orang masih bisa turun dekat kawasan inti, sekarang arus kendaraan sudah ditata ulang sama pemkot Jogja.

Mereka belajar dari yang sudah sudah, karena biasanya lalu lintas di sekitaran Titik Nol dan lingkungan sekitar Malioboro bener bener chaos kalo udah masuk waktu liburan. Untuk alasan menjaga Malioboro tetap nyaman bagi pejalan kaki, ada beberapa improvement yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

Datang Naik Bus, Turun Bukan di Malioboro

Bus pariwisata dari dulu memang tidak diizinkan masuk ke area utama Malioboro. Bahkan parkir di sekitar Senopati yang dulu sering dipakai juga sudah dibatasi dalam kebijakan terbaru karena parkir Senopati diperuntukkan mobil pribadi.

Bus akan diarahkan ke kantong parkir seperti Ngabean atau beberapa titik alternatif lain di pinggir kawasan. Di titik inilah wisatawan harus mulai menyesuaikan diri.

Biasanya setelah turun, pilihan paling masuk akal adalah lanjut dengan kendaraan yang lebih kecil. Bisa Trans Jogja yang ngetem di area parkir Ngabean, ojek online, atau becak. Banyak juga yang akhirnya jalan kaki sekalian, terutama kalau turun di area yang tidak terlalu jauh.

Yang masih jadi salah kaprah adalah, rombongan gak dikasih gambaran dari awal. Begitu turun, semua bingung mau ke mana, akhirnya jalan sendiri-sendir, tapi gatau jalannya ke arah mana. Ini yang sebenarnya bisa dihindari kalau dari awal sudah paham bahwa bus hanya mengantar sampai pinggir kota, bukan ke jantung Malioboro.

Kalau tujuannya tempat seperti Taman Pintar, sekarang bahkan ada skema tertentu seperti penjemputan dengan shuttle, tapi biasanya perlu reservasi sebelumnya. Ini bagian dari penyesuaian supaya bus besar tidak lagi masuk ke area padat.

Mobil Pribadi Masih Bisa Masuk, Tapi Gak Bebas

Kalau kamu bawa mobil sendiri, situasinya lebih longgar, tapi tetap tidak bisa seenaknya. Akses menuju Malioboro dibatasi dan diarahkan lewat jalur tertentu. Tidak semua jalan bisa langsung tembus seperti dulu.

Begitu mendekati kawasan, yang paling realistis adalah segera mencari parkir di kantong yang tersedia. Seperti yang disebutkan diatas, ada kantong parkir Senopati, area Pasar Bringharjo, dan ada beberapa titik lain yang difungsikan sebagai parkir roda empat. Dari situ, orang biasanya lanjut jalan kaki.

Mungkin yang jadi PR adalah jarak dari kantong parkir ke area malioboro. Kalo kuat jalan kaki, mungkin dengan jarak 1-2 KM doang udah nyampe Malioboro. Nah, kalo males, bisa pake becak dan sejenisnya, kamu bisa nego harga sampe deal sama kang becaknya.

Motor Paling Fleksibel, Tapi Bukan Berarti Bebas

Pengguna roda dua memang lebih diunggulkan. Parkiran kecil tersebar di banyak titik dan lebih mudah ditemukan.

Tapi tetap ada batasnya. Di jam-jam ramai, bahkan motor pun harus mengikuti arus dan kadang tetap perlu jalan kaki beberapa menit. Bedanya, nggak sejauh mobil atau bus.

Apa yang Bisa Dilakuin di Malioboro?

Begitu sudah sampai lokasi, cara menikmati Malioboro sebenarnya sederhana. Kawasan cocoknya lebih dinikmati pelan-pelan.

Sore sampai malam biasanya jadi waktu yang paling pas. Suhunya udah gak terlalu panas, dan suasana lampu lampu perkotaan mulai menerangi, ini yang nambah vibes Malioboro dan sebenernya yang dikejar oleh banyak wisatawan. Orang jalan santai, pedagang buka lebih ramai, dan seniman jalanan mulai muncul.

Di sepanjang jalan, kamu akan ketemu banyak hal sekaligus. Ada yang hunting oleh-oleh, ada yang sekadar duduk, ada juga yang sengaja datang untuk mengabadikan momen di HP nya. Kalau ingin belanja yang lebih lengkap, tinggal masuk ke Pasar Beringharjo atau teras malioboro yang posisinya masih satu kawasan.

Di sisi lain, Malioboro juga tidak berdiri sendiri. Dalam jarak yang masih masuk akal untuk ditempuh dengan jalan kaki, ada beberapa tempat yang sering sekalian dikunjungi seperti Benteng Vredeburg atau Keraton Yogyakarta yang letaknya cuma 2KM jalan kaki dari Malioboro. Banyak orang akhirnya tidak sadar sudah menghabiskan beberapa jam hanya dengan berjalan dari satu titik ke titik lain.

Kalau ditarik sederhana, kunci ke Malioboro sekarang itu soal penyesuaian. Bus tidak bisa lagi masuk pusat kota, mobil harus rela parkir agak jauh. Tapi Kalo kamu udah terbiasa sama menerima pola ini, semuanya jadi lebih mudah.

Kalau masih pusing ngurusin beginian, emang paling bener tuh pake TL lokal jogja milik Pijar Utomo sih. Karena Tour Leader kami memang warlok Jogja, jadi tau aturan di masing masing wisata. Karena kami udah tersedia di banyak kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota lainnya, jadi kamu bisa gunain Pijar Utomo untuk ke Jogja.

Udah di Jogja tapi belom punya bus untuk rombonganmu? Kami juga ada Bus Pijar Utomo Jogja juga kok. bisa Antar jemput dimanapun, mau stasiun, terminal, atau drop off bandara, gasskenn…

Online 24 Jam