Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kretek-Girijati, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kelok 23, mulai memasuki tahap uji coba pada 14-20 September 2026.
Jalur sepanjang 5,64 kilometer ini menghubungkan kawasan Parangtritis di Kabupaten Bantul dengan Girijati di Kabupaten Gunungkidul, dan digadang-gadang bakal jadi salah satu ikon baru wisata pesisir selatan DIY karena pemandangannya yang langsung mengarah ke Laut Selatan.
Tapi di balik nama yang sekarang udah familiar ini, ada cerita menarik yang belum banyak diketahui orang.
Awalnya Bernama Kelok 18, Bukan Kelok 23
Salah satu pejabat anggota Komisi C DPRD DIY, mengungkapkan bahwa jalur ini awalnya dirancang dengan nama Kelok 18.
Desainnya kemudian diperpanjang jadi 23 tikungan karena pertimbangan teknis dan keselamatan; ada beberapa titik tebing di kawasan tersebut yang berisiko longsor kalau desain awal tetap dipaksakan.
“Dari sisi kajian teknis itu lebih aman kalau dijadikan kelokannya lebih panjang. Karena ada beberapa tebing kalau seandainya dipaksakan dengan Kelok 18 itu bisa runtuh, justru nanti akhirnya menjadi bencana untuk masyarakat atau para pengguna jalan,” ujarnya saat diwawancarai awak wartawan.
Jadi nama “23” yang sekarang melekat ke jalur ini bukan angka yang direncanakan sejak awal, melainkan hasil penyesuaian desain demi keamanan jangka panjang penggunanya.
Karakteristik Jalur yang Perlu Diwaspadai
Sesuai namanya, jalur ini punya 23 tikungan tajam dengan tingkat kemiringan jalan mencapai 10 persen. Lebar jalannya sekitar 7 meter, dan waktu tempuh dari ujung ke ujung sekitar 6,5 menit dengan kecepatan 40-50 kilometer per jam sesuai rambu yang terpasang.
Salah satu titik yang paling jadi perhatian adalah tikungan yang dijuluki “tusuk konde”, karena dari situ pemandangan Pantai Parangtritis kelihatan sangat indah, sampai berpotensi bikin pengendara terlena dan kurang fokus mengemudi.
Ditambah lagi, jalur ini belum dilengkapi jalur darurat atau escape ramp, jadi pengendara perlu ekstra hati-hati soal pengereman, terutama di jalur menurun.
Ditlantas Polda DIY juga menegaskan larangan berhenti atau parkir sembarangan, serta melarang pedagang berjualan di badan maupun bahu jalan, sebagai antisipasi kecelakaan di jalur dengan karakteristik tikungan tajam seperti ini.
Belum Semua Kendaraan Boleh Lewat
Ini bagian yang paling penting buat kamu yang berencana lewat jalur ini, terutama kalau bawa rombongan. Selama masa uji coba, akses hanya diperbolehkan untuk kendaraan roda empat alias mobil pribadi. Kendaraan besar seperti bus dan truk belum diizinkan melintas, dan ada portal pembatas yang sengaja dipasang di ujung jalur buat mencegah kendaraan berukuran besar masuk.
Jam operasionalnya juga masih dibatasi, cuma pukul 06.00-18.00 WIB setiap hari. Pembatasan ini diterapkan karena masih ada pekerjaan lanjutan di ruas Paket Lot 17A sepanjang sekitar 980 meter di ujung jalur menuju Gunungkidul, yang penyelesaiannya ditargetkan pertengahan 2027.
Ada Keuntungan Kecil Buat yang Lewat ke Gunungkidul
Satu info praktis yang mungkin belum banyak orang tahu, TPR Parangtritis sekarang digratiskan buat wisatawan atau warga yang cuma lewat menuju Gunungkidul, nggak lagi dikenai retribusi seperti sebelumnya. Kebijakan ini diambil biar mobilitas masyarakat menuju pesisir selatan lebih lancar.
Rencana ke Depan
Setelah beroperasi penuh, jalur ini bakal dilengkapi tiga gardu pandang, satu di sisi Bantul dan dua lagi di kawasan perbatasan Bantul-Gunungkidul, plus rest area dengan pemandangan laut yang juga direncanakan bisa dipakai UMKM lokal buat jualan.
Proyek senilai sekitar Rp340 miliar ini merupakan bagian dari pengembangan Jalur Pantai Selatan (Pansela) DIY, yang diharapkan jadi alternatif buat mengurangi kepadatan di jalur utama Jogja-Gunungkidul.
Kami di Pijar Utomo bakal terus pantau perkembangan akses jalur ini, terutama soal kapan kendaraan besar seperti bus mulai diizinkan lewat.
Begitu jalur ini bisa dilalui armada rombongan, ini berpotensi jadi rute alternatif yang menarik buat itinerary menuju kawasan wisata pesisir selatan DIY seperti Parangtritis dan destinasi di Gunungkidul.

Bagus Prakosa merupakan praktisi di bidang event dan perjalanan wisata dengan pengalaman lebih dari empat tahun sebagai tour leader bersertifikasi serta tiga tahun sebagai freelance event organizer.
Selama berkarier di industri event, ia pernah terlibat dalam berbagai proyek skala besar, termasuk menangani kebutuhan artis sebagai liaison officer (LO) dalam sejumlah event dan konser di kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, dan beberapa destinasi utama lainnya di Indonesia.
Pengalamannya di lapangan membentuk pemahaman yang kuat terhadap manajemen perjalanan rombongan, koordinasi logistik, serta pelayanan pelanggan dalam berbagai situasi. Hal ini membuat Bagus terbiasa menghadapi kebutuhan perjalanan yang dinamis, mulai dari event hiburan hingga perjalanan wisata kelompok.
Saat ini, Bagus berperan sebagai Tour Consultant sekaligus Customer Service Lead di PT Pijar Utomo Transindo, posisi yang telah ia jalani selama lebih dari empat tahun.
Dalam peran ini, ia aktif membantu pelanggan dalam merencanakan perjalanan wisata, memberikan rekomendasi rute dan destinasi, serta memastikan setiap kebutuhan transportasi rombongan dapat terpenuhi dengan baik.
Bermodalkan kombinasi pengalaman di dunia event dan pariwisata, Bagus memiliki pendekatan yang praktis, solutif, dan berorientasi pada kenyamanan pelanggan dalam setiap perjalanan yang ditangani.